Kamis, 30 Juni 2011

Sudah Optimalkah Peran Wali Santri ?

Posted by Haryo-no 04.31, under | No comments

( Oleh M.Helmi Hariadi, Kabid.Litbang & Data Badko TKA-TPA Rayon Gondokusuman, Staff pengajar TKA-TPA Ukhuwah Islamiyah Demangan-Yogyakarta )


Pertanyaan ini adalah jawaban dari semua pertanyaan sebagian besar pengurus TKA-TPA. Sebagai salah satu unsur utama pembangun TKA-TPA disamping Penanggungjawab, Pengajar, Pengurus, dan Santri, peran wali santri ternyata sangat diperlukan terutama dalam memberikan semangat kepada para santri untuk lebih giat lagi belajar mengaji. Tetapi untuk di kota-kota besar, sepertinya peran wali santri untuk mendukung gerakan TKA-TPA sudah mulai luntur.

Sebagai panutan para santri diluar TKA-TPA, semestinya para wali santri memberikan dukungan terhadap gerakan TKA-TPA. Kalau hanya mengandalkan peran ustadz/ah yang notabenenya hanya bertemu sekitar satu setengah jam perhari dan hanya sekitar 3 hari dalam seminggu, tujuan untuk mencetak generasi Qur'ani tentunya sangat sulit untuk diwujudkan. Suatu tujuan besar sangat kecil kemungkinannya membutuhkan waktu yang samgat singkat, untuk itu peran wali santri juga harus lebih dibandingkan dengan peranan ustadz/ah.

Bagaimana kalau wali santrinya tidak bisa ilmu agama ? Untuk wali santri yang memiliki masalah seperti ini tidak perlu bingung-bingung, para wali santri tinggal memberikan nasihat yang baik kepada putra-putrinya agar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, Karena dengan sungguh-sungguh, insyAllah kemudahan dalam hal belajar dapat dicapai. Jika waktunya bukan jam kegiatan TKA-TPA, wali santri juga bisa mengingatkan untuk mengulang pelajaran yang diperoleh agar tidak hilang dari ingatan para santri.

Begitu pula untuk wali santri yang memiliki sedikit waktu untuk mengurus putra-putrinya, bisa juga dilakukan cara-cara seperti diatas, yang terpenting adalah kita mencoba untuk memberikan keteladan yang baik dihadapan para santri, maka lama-kelamaan santri juga akan memahami sendiri peran dan tanggungjawab mereka sendiri. Sehingga Gerakan Baca, Tulis, Penghayatan, Pemahaman, dan Pengamalan Al-Qur'an dapat berjalan dengan baik.

Semoga Rahmat Allah selalu menghiasi seluruh keluarga besar TKA-TPA, agar bisa memberikan yang terbaik untuk Agama, Bangsa, dan Negara.

" Mars TKA TPA "

Posted by Haryo-no 04.21, under | 1 comment

"Mars TKA / TPA"

Gema Tulis Baca Al-Qur'an Membahana
Gegap Gempita di Penjuru Nusantara
di Ufuk Timur Fajar Terang nan Berseri
Seiring Tegaknya Generasi Qur'ani

Berbahagialah Insan yang Beriman
Kedudukan Tinggi di Hadapan Allah
Putra-Putri Islam Bangkitlah Serentak
Membina Pribadi Insan nan Islami

Tegak Berdiri Santri TKA-TPA
Rajin Mengaji Mengamalkan Qur'an Suci
Berbakti Pada Allah serta Ibu Bapak
Berbudi Luhur Menjunjung Martabat bangsa


Hymne TKA - TPA


Sejak kecil kami baca Al qur'an pedoman kami

Agar terang jiwa raga selamat dunia akherat

Ya Allah curahkanlah rahmatmu kepada kami,

jadikanlah Qur'an suci jalan terang hidup kami

Tekad kami putra putri santri TKA / TPA

pegang teguh qur'an suci mengharap ridho ilahi

Jumat, 24 Juni 2011

Tepuk Wudhu

Posted by Haryo-no 22.50, under | No comments

Mengajarkan cara berwudhu kepada anak-anak harus dimulai sejak dini, tentu saja cara berwudhu yang sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. Tidak asing bagi para ustadz dan ustadzah mengajarkan sesuatu dengan permainan dan tepuk, untuk mempermudah penyampaian dan mudah diingat oleh anak anak.Nah kali ini TPA Al Mubarok memposting tepuk wudhu, semoga bermanfaat

Tepuk Wudhu ( Nada : Siapa suka hati )

Tepuk wudhu, ( xxx )

Baca bismillah lalu cuci tangan ( xxx )

Kumur-kumur, cuci hidung, cuci muka ( xxx )

Tangan sampai ke siku, kepala dan telinga

Tak lupa cuci kaki, lalu do’a,,,



Nah, mudah kan

Selasa, 21 Juni 2011

Tepuk Rukun Islam

Posted by Haryo-no 19.55, under | No comments


Islam dibangun di atas lima dasar, yang lebih dikenal dengan Rukun Islam. Ibarat sebuah rumah, Rukun Islam merupakan tiang-tiang atau penyangga bangunan keislaman seseorang. Semakin kuat tiang penyangga, maka bangunan juga akan semakin kuat, tidak akan goyah diterpa badai maupun goncangan. Demikian juga apabila kita mampu menegakkan Rukun Islam, maka keislaman kita akan semakin kuat. “Sesungguhnya Islam itu dibangun atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari Muslim).
Nah kali ini TPA Al Mubarok, ingin berbagi ilmu tentang bagaimana cara menyampaikan tentang Rukun Islam kepada santri TPA, yaitu dengan tepuk.. langsung aja ya

Tepuk Rukun Islam xxx
Pertama membaca dua syahadat xxx
Kedua lalu mengerjakan sholat xxx
Ketiga berpuasa keempat bayar zakat
Kelima pergi haji naik pesawat..wus.wus.wus

Jumat, 17 Juni 2011

Jejak Islam di Andalusia

Posted by Haryo-no 21.11, under , | No comments

“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, ke manakah kalian akan lari?, Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar dari pada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain dari barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari-hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuh akan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian.”Kalimat tersebut diucapkan setelah kapal yang digunakan menyeberangi selat, sehingga satu-satunya pilihan bagi 7000 pasukan Islam saat itu hanyalah menghadapi 100.000 pasukan Visigoth guna menaklukkan negeri Andalusia, atau syahid disana. Pidato terkenal ini dikobarkan oleh seorang panglima perang yang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah penyebaran Islam: Thariq bin Ziyad.

Thariq bin Ziyad
Nama lengkapnya adalah Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau. Beliau merupakan putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri. Beliau adalah salah seorang Panglima Perang Islam pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik atau al-Walid I (705-715 M) dari bani Umayah.

Pada bulan Rajab 97 H atau Juli 711 M, beliau mendapat perintah dari Gubernur Afrika Utara, Musa bin Nusair untuk mengadakan penyerangan ke semenanjung Andalusia (Semenanjung Iberia yang sekarang meliputi negara Spanyol dan Portugis). Bersama 7.000 pasukan yang dipimpinnya, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat Gibraltar (berasal dari kata “Jabal Thariq” yang berarti “Gunung Thariq”) menuju Andalusia.

Setelah armada tempur lautnya mendarat di pantai karang, beliau berdiri di atas bukit karang dan berpidato. Beliau memerintahkan anak buahnya untuk membakar kapal-kapal yang membawa seluruh awak pasukannya. Kecuali kapal-kapal kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada khalifah[citation needed, lihat footnote]. Beliau mengatakan, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid).”

Karuan saja pidato ini membakar semangat jihad pasukannya. Mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur pasukan kerajaan Visigoth, Spanyol, di bawah pimpinan Raja Roderick. Atas pertolongan Allah swt, 100.000 pasukan Raja Roderick tumbang di tangan pasukan muslim. Raja Roderick pun menemui ajal di medan pertempuran ini.

Dimulainya penyebaran Islam di Eropa Barat
Dalam kitab Tarikh al-Andalus, disebutkan bahwa sebelum meraih keberhasilan ini, Thariq telah mendapatkan firasat bahwa ia pernah bermimpi melihat Rasulullah saw bersama keempat khulafa’ al-rasyidin berjalan di atas air hingga menjumpainya, lalu Rasulullah saw. memberi tahukan kabar gembira bahwa ia akan berhasil menaklukkan Andalusia. Kemudian Rasulullah saw. menyuruhnya untuk selalu bersama kaum muslimin dan menepati janji.

Setelah meraih kemenangan ini, Thariq menulis surat ke Musa, mempersembahkan kemenangan kaum muslimin ini. Dalam suratnya itu ia menulis:

“Saya telah menjalankan perintah anda. Allah telah memudahkan kami memasuki negeri Andalusia.”

Setahun kemudian, Musa bin Nusair bertolak membawa 10.000 pasukan menyusul Thariq. Sejak saat itu, satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduduki tentara Thariq dan Musa; Toledo, Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Lalu dilanjutkan Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia, dan Galicia. Dan penyebaran Islam ke Eropa pun dimulai dari Andalusia.

Pasukan Musa dan pasukan Thariq bertemu di Toledo. Keduanya bergabung untuk menaklukkan Ecija. Setelah itu mereka bergerak menuju wilayah Pyrenies, Perancis. Hanya dalam waktu 2 tahun, seluruh daratan Spanyol berhasil dikuasai. Beberapa tahun kemudian Portugis mereka taklukkan dan mereka ganti namanya dengan Al-Gharb (Barat).

Sungguh itu keberhasilan yang luar biasa. Musa bin Nusair dan Thariq bin Ziyad berencana membawa pasukannya terus ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa. Sebab, waktu itu tidak ada kekuatan dari mana pun yang bisa menghadap mereka. Namun, niat itu tidak tereaslisasi karena Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka berdua pulang ke Damaskus. Thariq pulang terlebih dahulu sementara Musa bin Nusair menyusun pemerintahan baru di Spanyol.

Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah swt. tidak kembali ke Eropa. Ia sakit dan menghembuskan nafas. Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika Utara muslim yang menaklukkan daratan Eropa.

Wilayah Al-Andalus (abad 7 hingga 10)

Sejarawan Barat beraliran konservatif, W. Montgomery Watt dalam bukunya Sejarah Islam di Spanyol, mencoba meluruskan persepsi keliru para orientalis Barat yang menilai umat Islam sebagai yang suka berperang. Menurutnya,

“Mereka (para orientalis) umumnya mengalami mispersepsi dalam memahami jihad umat Islam. Seolah-olah seorang muslim hanya memberi dua tawaran bagi musuhnya, yaitu antara Islam dan pedang. Padahal, bagi pemeluk agama lain, termasuk ahli kitab, mereka bisa saja tidak masuk Islam meski tetap dilindungi oleh suatu pemerintahan Islam.”

Peperangan dalam Islam adalah untuk menghidupkan manusia bukan untuk memusnahkan. Itu sebabnya, ketika kaum muslimin menang perang dan menguasai wilayah tidak bertujuan menjajahnya. Berbeda dengan ideologi Kapitalisme yang memang tujuan mereka berperang adalah untuk menguasai wilayah dan menjajahnya (baca: menguras seluruh potensi wilayah itu untuk kepentingan bangsanya).

Merah tua: Ekspansi wilayah Islam di zaman Rasulullah, 622-632
Merah muda: Ekspansi wilayah Islam di zaman Khulafaur Rasyidin, 632-661
Oranye: Ekspansi wilayah Islam di zaman Kekhilafahan Bani Umayyah, 661-750

Sejarah Andalusia