Senin, 25 April 2011

Cara kaya ala Rasulullah

Posted by Haryo-no 07.27, under | 1 comment

Sebelum menjadi nabi, Muhammad adalah seorang pedagang sukses yang dijuluki Al Amin. Lebih dari 20 tahun beliau berkiprah di bidang perdagangan, sehingga mampu membangun jaringan bisnis hingga ke Yaman, Syria, Irak, Yordania dan kota-kota lainnya di Jazirah Arab.
Karirnya meningkat setelah dipercaya sebagai mudharib (fund manager) seorang saudagar besar bernama Khadijah. Dalam Sirah Halabiyah dijelaskan bahwa Muhammad sempat melakukan empat lawatan dagang untuk Khadijah.
Selain perjalanan bisnis, dia juga terlibat dalam urusan dagang yang besar, selama musim-musim haji di festival dagang Ukaz dan Dzul Majaz. Sementara di luar musim haji, Muhammad sibuk mengurus perdagangan grosir pasar-pasar kota Mekkah. Dalam menjalankan bisnisnya, dia menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang jitu dan andal sehingga bisnisnya tetap untung dan tidak pernah buntung.

"Rasulullah" adalah tokoh yang patut kita teladani, baik sebagai negarawan maupun sebagai bisnis"man yang handal. Dalam bahasan ini utamanya adalah dalam kehidupan Beliau sebagai "bisnis"man. "Rasulullah" mempunyai "Rahasia Bisnis" yang sangat bagus yang bisa diterapkan oleh para "bisnis"man. "Rahasia bisnis" beliau adalah :

1. Menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga.

2. Dalam dunia "bisnis", kejujuran dan kepercayaan tak boleh ditawar sama sekali.

3. Tak cuma bisa mimpi, tapi harus jago mewujudkan mimpi itu.

4. Berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan.

5. Memiliki planning dan goal setting yang jelas.

6. Pintar mempromosikan diri.

7. Menggaji karyawan sebelum kering keringatnya.

8. Mengetahui rumus bekerja dengan cerdas.

9. Mengutamakan sinergisme.

10.Ber"bisnis" dengan cinta.

11.Pandai bersyukur dan berucap terimakasih.

12.Be The Best ! Menjadi manusia paling bermanfaat.

( Sumber : "Rahasia Bisnis Rasulullah" oleh Prof. Laode Kamaluddin, Ph.D ).


Salah satu tanda bahwa kita mencintai "Rasulullah" adalah dengan beramal sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh "Rasulullah" SAW.


Apabila semua "bisnis"man mau mengaplikasikan apa yang dilaksanakan "Rasulullah" di atas, maka kesejahteraan umat akan dapat terwujud. Tidak akan ada konflik-konflik yang akhir-akhir ini banyak terjadi di dunia "bisnis". Konflik antara pengusaha, pekerja maupun pelanggan tidak akan sampai terjadi.


Prinsip-prinsipnya, antara lain jujur, setia dan profesional. Dengan prinsip-prinsip etika bisnis tersebut, dia berhasil meraih kepercayaan konglomerat-konglomerat Arab. Inilah dasar kepribadian dan etika bisnis yang dipraktekkan Muhammad sehingga bisa menjadi semacam money magnet bagi taipan-taipan Arab kala itu, di samping juga menjadi medan magnet yang mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitarnya, dan masyarakat Arab pada umumnya.
Sebab kesuksesan Rasulullah tak bisa lepas dari keberhasilannya menjaga kepercayaan (amanah). Itulah modal terbesar yang tak bisa ditawar-tawar jika kita ingin sukses dalam berbisnis seperti Rasulullah.
Dari berbagai hadis dan sejarah hidup rasulullah (sirah nabawiyah), ada beberapa inspirasi yang dapat menjadi teladan bagi para pebisnis.
 Pertama, penjual tidak boleh mempraktekkan kebohongan dan penipuan menyangkut barang yang dijual kepada pembeli.
 Kedua, penjual harus menjauhkan sumpah yang berlebihan dalam menjual suatu barang. Dalam mengiklankan produk atau jasa, tidak dibenarkan melakukan pembodohan dengan cara berdusta.
 Ketiga, hanya dengan sebuah kesepakatan bersama, atau dengan suatu usulan dan penerimaan, suatu penjualan akan sempurna.
 Keempat, Rasulullah melarang dengan tegas adanya monopoli dagang.
Bisnis bagi Rasulullah tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tetapi ada yang lebih tinggi dari itu semua, yakni menjaga kehormatan diri.
Pembangunan harga diri, etos kerja, karir kehormatan sebagai orang yang jujur dan sangat amanah terhadap janji-janji, jika ditanamkan dan dilatih sejak awal, akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu tinggi, dan menjadi bekal kesuksesan yang luar biasa.
Mau kaya, sukses, dan dihormati orang lain? Teladanilah etika bisnis Rasulullah!
Marilah kita ciptakan kedamaian dan kebersamaan dalam kehidupan dunia ini dengan mengaplikasikan contoh-contoh yang telah diberikan oleh "Rasulullah" SAW. Karena dengan mengaplikasikan amalan yang telah dicontohkan oleh "Rasulullah" berarti kita melaksanakan perintah Allah seperti Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzaab Ayat 21 : "Sungguh pada diri "Rasulullah" itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah".


Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dirahmati oleh Allah SWT, sehingga kita bisa selalu mengamalkan amalan yang telah dicontohkan oleh "Rasulullah" SAW. Amiin Ya Robbal'alamin


Rabu, 20 April 2011

Wudhu

Posted by Haryo-no 19.15, under ,,, | No comments

Wudhu merupakan salah satu amalan ibadah yang agung di dalam Islam. Secara bahasa, wudhu berasal dari kata Al-Wadha’ah, yang mempunyai arti kebersihan dan kecerahan. Sedangkan menurut istilah, wudhu adalah menggunakan air untuk anggota-anggota tubuh tertentu (yaitu wajah, dua tangan, kepala dan dua kaki) untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat atau ibadah yang lain.

Dalil-Dalil Disyariatkannya Wudhu

Dalil dari Al-Qur’an

Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan taganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)
Dalil dari As-Sunnah

1. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk berwudhu apabila hendak mengerjakan shalat.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasa’i dengan derajad shahih)
2. Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Tidak diterima shalat salah seorang dari kalian apabila ia berhadas, hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil Ijma’

Para ulama telah sepakat bahwa tidak sah shalat tanpa bersuci, jika dia mampu untuk melakukannya.

Begitu penting dan agungnya perkara wudhu ini, sampai-sampai dikatakan bahwa tidak sah shalat seseorang tanpa berwudhu, maka sudah selayaknya bagi setiap muslim untuk menaruh perhatian yang besar terhadap permasalahan ini dengan berusaha memperbagus wudhunya yaitu dengan memperhatikan syarat, kewajiban serta sunnah-sunnah wudhu.

Syarat-syarat Wudhu

Yang dimaksud dengan syarat-syarat wudhu adalah perkara-perkara yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berwudhu. Di antara syarat-syarat wudhu adalah:

1. Islam.
Wudhu merupakan salah satu bentuk ibadah dalam Islam di mana orang yang melakukannya dengan ikhlas serta sesuai dengan tuntunan Allah akan diberi pahala. Adapun orang kafir, amalan-amalan mereka seperti debu yang beterbangan yang tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.
2. Berakal
3. Tamyiz (Dewasa)
4. Niat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang diniatkannya. ” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, orang yang dhohirnya (secara kasat mata) berwudhu, akan tetapi niatnya hanya sekedar untuk mendinginkan badan atau menyegarkan badan tanpa diniati untuk melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam berwudhu serta menghilangkan hadats, maka wudhunya tidak sah. Dan yang perlu untuk diperhatikan, bahwa niat di sini letaknya di dalam hati dan tidak perlu dilafazkan.
5. Tasmiyah
Yang dimaksud dengan tasmiyah adalah membaca “bismillah”. Boleh juga apabila ditambah dengan “Ar-Rohmanir Rohim“. Tasmiyah ketika hendak memulai shalat merupakan syarat sah wudhu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak berwudhu dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah (bertasmiyah, pen). ” (HR. Ibnu Majah, hasan)
6. Menggunakan air yang suci
Air dikatakan suci atau masih suci manakala tidak tercampur oleh zat/barang yang najis sehingga menjadi berubah salah satu dari tiga sifat, yaitu bau, rasa dan warnanya. Apabila air telah terkena najis, misalnya air kencing atau yang lainnya, kemudian menjadi berubah salah satu dari ketiga sifat di atas maka air tersebut telah menjadi tidak suci lagi berdasarkan ijma’. Apabila air tersebut tercampuri oleh sesuatu yang bukan najis, maka air tersebut masih boleh dipakai untuk berwudhu apabila campurannya hanya sedikit. Namun apabila campurannya cukup banyak sehingga menjadikan air tersebut tidak bisa dikatakan lagi sebagai air, maka air yang telah berubah ini tidak dapat dipakai untuk berwudhu lagi karena sudah tidak bisa dikatakan lagi sebagai air. Misalnya, ada air yang suci sebanyak 1 liter. Air ini kemudian dicampur dengan 5 sendok makan susu bubuk dan diaduk. Maka campuran air ini tidak bisa lagi dipakai untuk berwudhu karena sudah berubah namanya menjadi “susu” dan tidak dikatakan sebagai air lagi.
7. Menggunakan air yang mubah
Apabila air diperoleh dengan cara mencuri, maka tidak sah berwudhu dengan air tersebut. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Baik. Dia tidak menerima sesuatu kecuali yang baik.” (HR. Muslim). Sudah dimaklumi, bahwa mencuri merupakan perbuatan yang tidak baik dan keharamannya sudah jelas. Oleh karena itu, air hasil curian (yang merupakan barang yang tidak baik) tidak sah digunakan untuk berwudhu.
8. Menghilangkan sesuatu yang menghalangi sampainya air ke kulit.
Tidak sah wudhu seseorang yang memakai kutek atau yang lainnya yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit.

Rukun-Rukun Wudhu

Rukun wudhu dikenal pula sebagai kewajiban wudhu yaitu perkara-perkara yang harus dilakukan oleh orang yang berwudhu agar wudhunya menjadi sah. Di antara rukun-rukun wudhu adalah:

1. Mencuci seluruh wajah

Wajah adalah sesuatu yang tampak pada saat berhadapan. Batasan wajah adalah mulai dari tempat tumbuhnya rambut bagian atas dahi hingga bagian paling bawah dari jenggot atau dagu (jika memang tidak punya jenggot). Ini bila ditinjau secara vertikal. Adapun batasan wajah secara horizontal adalah dari telinga hingga ke telinga yang lain.

Mencuci wajah merupakan salah satu rukan wudhu, artinya tidak sah wudhu tanpa mencuci wajah. Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu.” (QS. Al-Maidah: 6)

Termasuk salah satu kewajiban dalam wudhu adalah menyela-nyela jenggot bagi yang memiliki jenggot yang lebat berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, beliau mengambil setelapak air kemudian memasukkannya ke bawah dagunya selanjutnya menyela-nyela jenggotnya. Kemudian bersabda, “Demikianlah Rabbku memerintahkanku.” (HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, Al-Hakim dengan sanad shahih lighoirihi).

Perlu untuk diperhatikan bahwa pegertian mencuci wajah termasuk di dalamnya madhmadhoh (berkumur-kumur) dan istinsyaq (memasukkan air dan menghirupnya hingga ke bagian dalam hidung). Hal ini karena mulut dan hidung juga termasuk bagian wajah yang harus dicuci. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu hendaklah ia melakukan istinsyaq.” (HR. Muslim). Adapun tentang madhmadhoh, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau berwudhu, maka lakukanlah madhmadhoh.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu majah dengan sanad yang shahih)

Sehingga orang yang berwudhu tanpa disertai dengan madhmadhoh dan istinsyaq maka wudhunya tidak sah.

2. Mencuci kedua tangan hingga siku

Para ulama telah bersepakat tentang wajibnya mencuci kedua tangan ketika berwudhu. Allah berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan juga tanganmu sampai dengan siku.” (QS. Al-Maidah: 6)

Perlu untuk diperhatikan bahwa siku adalah termasuk bagian tangan yang harus disertakan untuk dicuci.

3. Mengusap kepala serta kedua telinga

Allah berfirman yang artinya, “… dan usaplah kepalamu.” (QS. Al-Maidah: 6). Yang dimaksud dengan mengusap kepala adalah mengusap seluruh bagian kepala mulai dari depan hingga belakang. Adapun apabila seseorang mengenakan sorban, maka cukup baginya untuk mengusap rambut di bagian ubun-ubunnya kemudian mengusap sorbannya. Demikian pula bagi wanita yang mengenakan kerudung.

Adapun mengusap kedua telinga hukumnya juga wajib karena termasuk bagian dari kepala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kedua telinga termasuk kepala.” (HR. Ibnu Majah, shahih). Mengusap kedua telinga ini dilakukan setelah mengusap kepala dengan tanpa mengambil air yang baru.

4. Mencuci kedua kaki hingga mata kaki.

Allah berfirman yang artinya,” dan (cucilah) kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6)

Perlu untuk diperhatikan bahwa kedua mata kaki adalah termasuk bagian kaki yang harus disertakan untuk dicuci. Adapun menyela-nyela jari-jari kaki hukumnya juga wajib apabila memungkinkan bagian antar jari tidak tercuci kecuali dengan menyela-nyelanya.

5. Muwalaat (berturut-turut)

Muwalat adalah berturut-turut dalam membasuh anggota wudhu. Maksudnya adalah sebelum anggota tubuh yang dibasuhnya mengering, ia telah membasuh anggota tubuh yang lainnya.

Dalilnya adalah hadits Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang berwudhu dan meninggalkan bagian sebesar kuku pada kakinya yang belum tercuci. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya maka beliau bersabda, “Kembalilah dan perbaikilah wudhumu!” (HR. Muslim). Dalam suatu riwayat dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwasanya Nabi melihat seseorang sedang shalat, sementara di bagian atas kakinya terdapat bagian yang belum terkena air sebesar dirham. Maka Nabi memerintahkannya untuk mengulangi wudhu dan shalatnya.” (HR. Abu dawud, shahih). Dari hadits di atas, dapat kita ketahui bahwa muwalaat merupakan salah satu rukun wudhu. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mencukupkan diri dalam memerintahkan orang yang belum sempurna wudhunya untuk mencuci bagian yang belum tercuci sebelumnya, namun beliau memerintahkan orang tersebut untuk mengulangi wudhunya.

Sunnah-sunnah Wudhu

Yang dimaksud sunnah-sunnah wudhu adalah hal-hal yang menyempurnakan wudhu. Di dalamnya terdapat tambahan pahala. Adapun jika hal-hal tersebut ditinggalkan, wudhunya tetap sah. Di antara sunnah-sunnah wudhu adalah:

1. Bersiwak

Siwak diambil dari kata saka, yang artinya adalah menggosok. Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud dengan bersiwak adalah menggunakan kayu siwak atau sejenisnya pada gigi untuk menghilangkan warna kuning atau yang lainnya.

Bersiwak ini sangat dianjurkan tatkala hendak berwudhu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya telah kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Ahmad, dalam Shohihul jami’)

2. Mencuci kedua telapak tangan

Yang dimaksud adalah mencuci kedua telapak tangan sebelum wudhu ketika hendak mencuci wajah. Hal ini dilakukan masing-masing sebanyak tiga kali berdasarkan hadits Utsman tentang sifat (cara) wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “…lalu beliau menuangkan (air) di atas telapak tangannya tiga kali kemudian mencucinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Madhmadhoh (berkumur-kumr) dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) dari satu telapak tangan sebanyak tiga kali.

Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu yang mengajarkan tentang sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ” Bahwasanya beliau berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan. Beliau melakukan hal itu sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim). Termasuk sunnah dalam wudhu adalah bersungguh-sungguh tatkala beristnsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), kecuali bagi orang yang bepuasa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bersungguh-sunguhlah dalam beristinsyaq, kecuali kamu dalam keadaan berpuasa. (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad dengan sanad yang shahih)

Perlu untuk diketahui bahwa bermadhmadhoh serta beristinsyaq dalam wudhu hukumnya wajib (sebagaimana penjelasan yang terdahulu tentang rukun-rukun wudhu). Adapun bermadhmadhoh dan beristinsyaq dengan menggunakan satu telapak tangan serta melakukannya sebanyak tiga kali hukumnya hanyalah sunnah. Demikian pula bersungguh-sungguh dalam beristinsyaq tatkala berwudhu selain bagi orang yang berpuasa, ini pun hukumnya hanyalah sunnah.

4. Tayamun

Yang dimaksud dengan tayamun adalah mencuci anggota wudhu dengan memulainya dari bagian anggota wudhu yang kanan dulu kemudian ke bagian yang kiri pada saat mencuci kedua tangan atau kaki.

Dalilnya adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu tatkala menceritakan sifat wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “…Kemudian beliau mengambil seciduk air lalu mencuci tangan kanannya, kemudian mengambil seciduk air lalu mencuci tangan kirinya. Kemudian beliau mengusap kepalanya. Selanjutnya beliau mengambil seciduk air lalu menyiramkannya pada kaki kanannya hingga mencucinya. Kemudian beliau mengambil seciduk air lagi lalu mencuci kaki kirinya.” (HR. Bukhari)

5. Mencuci anggota-anggota wudhu sebanyak tiga kali.

Hali ini merupakan cara wudhu yang paling sempurna berdasarkan hadits A’robi (arab badui) tatkala ia bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wudhu, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya tiga kali-tiga kali. Selanjutnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Inilah cara berwudhu...” (HR. Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, shohih). Juga berdasarkan hadits Utsman radhiyallahu ‘anhu yang suatu ketika memperlihatkan cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Utsman radhiyallahu ‘anhu berwudhu tiga kali tiga kali kemudian berkata, “Aku melihat Nabi berwudhu seperti wudhuku ini…” (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun berwudhu sekali-sekali ataupun dua kali dua kali, ini pun juga diperbolehkan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah melakukannya.

6. Berdoa setelah wudhu

Berdoa setelah wudhu merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan, berdasarkan hadits dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dengan sempurna, kemudian mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaha illallah wahdahu laa syarika lahu, wa asyhadu anna muhammdan abduhu wa rosuluhu‘ kecuali dibukakan baginya delapan pintu surga dan ia boleh masuk dari pintu mana saja yang ia suka.” (HR. Muslim). Di dalam lafadz Tirmidzi ada tambahan bacaan, “Allahumma ijnalni minattawwabiin wa ij’alni minal mutathohhiriin.” (HR. Tirmidzi, shahih)

7. Shalat dua rakaat setelah wudhu

Amalan ini mempunyai nilai yang sangat agung di dalam Islam berdasarkan hadits Utsman radhiyallahu ‘anhu. Tatkala Utsman radhiyallahu ‘anhu selesai mempraktekkan cara wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, ‘Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat dengan penuh kekhusyukan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian beberapa syarat, rukun dan sunnah-sunnah wudhu yang hendaknya menjadi perhatian bagi kita semua untuk kita amalkan agar wudhu kita sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebenarnya ada beberapa permasalahan di atas yang masih menjadi perselisihan para ulama tentang pengelompokannya menjadi syarat, rukun atau sunnah wudhu, akan tetapi sengaja tidak kami tampilkan dan hanya dipilih yang paling kuat pendapatnya menurut penulis untuk mempermudah pembahasan. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada penulis dan menjadikan tulisan ini sebagai tabungan amal shalih bagi penulis di akhirat kelak serta bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

***

www.muslim.or.id

Jumat, 15 April 2011

ABDURRAHMAN AL GHAFIQI-1 (Amir Andalusia)

Posted by Haryo-no 23.14, under , | No comments

Al-Ghofiqi adalah seorang profil sejati seperti Musa bin Nushair dan Thoriq bin Ziyad, dalam ketinggian cita-citanya dan keluhuran budinya” (Ahli Sejarah)

Selang tak berapa lama dari penguburan pendahulunya, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah terpilih, Amirul Mukminin, Umar bin Abdul Aziz –Khulafaur Rosyidin langsung mengevaluasi kembali kinerja para pembantunya di berbagai pelosok negeri. Ada yang ia pecat dan ada pula yang ia angkat.


Di antara bawahannya yang diniali sebagai pelopor adalah as-Samh bin Malik al-Khaulani. Beliau diangkat untuk memimpin Andalus dan daerah-daerah di sekitarnya yang baru saja ditaklukkan seperti Negara Perancis.
Pemimpin yang baru diangkat ini mengadakan perjalanan ke Negara Andalus dan mulailah ia menyelidiki para pembantu-pembantunya yang berprilaku jujur dan baik, maka beliau berkata dengan orang-orang di sekitarnya, “Apakah di sini masih ada tabi’in.?” Maka merekapun menjawab, “Masih ada wahai amirul Mukminin, di tengah-tengah kami masih ada seorang tabi’in yang agung, yaitu Abdurrahman al Ghafiqi.” Kemudian mereka menyebutkan pengetahuannya yang luas tentang Kitab Allah, kefahamannya tentang hadits Rasululloh SAW, pengalamannya dalam medan jihad, kerinduannya terhadap mati syahid, dan kezuhudannya dari perhiasan dunia yang menipu.

Kemudian mereka berkata kepada beliau, “Abdurrahman al Ghafiqi berguru kepada sahabat yang agung, Abdullah bin Umar bin Khaththab RA, dan dia telah mengambil ilmu dari beliau sebanyak yang Allah kehendaki. Ia juga menjadikan beliau menjadi suri teladan dengan sepenuh hati dengan baik”

As-Samh bin Malik al-Khaulani mengundang Abdurrahman al-Ghafiqi untuk bertemu, di saat dia telah datang as-Samh menyambutnya dengan sebaik-baik sambutan kemudian menyuruh al-Ghafiqi agar lebih merapatkan tempat duduknya sebagai rasa penghormatannya. Mereka berdua duduk-duduk sambil ngobrol, ia menanyakan apa-apa yang terlintas dalam benaknya, dan meminta pendapat dari beberapa masalah yang ia anggap rumit, sehingga dapat mengokohkan pendiriannya. Tetapi ternyata Abdurrahman al Ghafiqi melebihi apa yang telah diberitakan kepadanya dan lebih agung dari apa yang telah beliau dengar, maka ia langsung berniat untuk menyerahkan kepadanya satu urusan besar, yaitu mengangkatnya menjadi pemimpin di Andalus.

Abdurrahman al Ghafiqi berkata kepada beliau, “wahai Amir, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia biasa, saya datang ke negeri ini untuk ikut menjaga tapal batas negeri kaum Muslimin, dan aku berjanji untuk hanya mencari keridhaan Allah SWT, dan aku akan menghunus pedangku hanya untuk menegakkan kalimat Allah SWT, engkau akan mendapatiku – insya Allah – tetap kokoh membelamu selama engkau dalam kebenaran dan aku akan selalu mengerjakan perintahmu selama di dalamnya mengandung unsur ketaatan kepada Allah SWT tanpa harus dengan kekuasaan atau kepemimpinan.”

Tidak lama kemudian as-Samh bin Malik al-Khaulani berniat untuk menaklukkan seluruh daerah di negeri Perancis, dan menjadikannya sebagai daerah yang tergabung dengan wilayah kaum muslimin dan mengambil jalan darinya lewat tanah yang lapang untuk menembus jalan menuju Negara-negara Balkan*, kemudian dari situ akan terbukalah pintu menuju Konstantinopel sebagai realisasi atas berita gembira yang telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW.**

Rencana awal yang diambil untuk mewujudkan tujuan besar ini sempat tergantung kepada penaklukan kota Narbonne***, hal ini dikarenakan kota tersebut adalah kota yang paling besar di daerah Perancis yang bertetangga dengan Negara Andalusia (sekarang Spanyol-red).

Dan di saat kaum muslimin sampai di sebuah gunung yang bernama Pyrenees mereka menemukan gunung tersebut berdiri tegak dan kokoh di depan mereka. padahal lebih dari itu, gunung tersebut merupakan kunci pembuka dan jalan menuju negara Perancis yang begitu besar tersebut .

As-Samh bin Malik al-Khaulani mengepung kota Narbonne kemudian menawarkan kepada penduduknya dua pilihan: masuk Islam atau membayar Jizyah (upeti), akan tetapi mereka merasa keberatan dan menolaknya.

Kemudian mereka (pasukan Islam) bergerak menyerang satu persatu, dan menembaki mereka dengan senjata meriam batu (ketapel besar), sehingga jatuhlah kota yang begitu besar dan kuat tersebut di tangan kaum muslimin setelah dikepung selama empat minggu. Semangat kepahlawanan dalam perang tersebut belum pernah disaksikan dahsyatnya oleh Negara Eropa.

Panglima perang yang tangguh tersebut kemudian langsung bergerak menuju kota Tolouse – ibukota daerah Oktania – bersama pasukannya yang gagah berani, dan meletakkan di sekelilingnya senjata meriam batu serta menghujaninya dengan senjata-senjata perang yang belum pernah disaksikan tandingannya oleh Negara Eropa sebelumnya, sehingga seakan-akan hampir saja kota yang begitu besar tersebut jatuh di bawah kekuasaan mereka, di saat itulah terjadi sesuatu yang belum pernah terlintas sebelumnya.

Maka marilah kita berhenti sejenak untuk menyimak perkataan seorang orientalis yang bernama Rennes agar kita mengetahui informasi sebenarnya dari peperangan tersebut.

Rennes berkata, “di saat kemenangan telah begitu dekat dari kaum muslimin, Duke Octania mengalami kekalahan dan lari dari medan perang, kemudian ia mengutus beberapa utusan untuk berkeliling Eropa dari ujung ke ujung agar memberikan peringatan kepada para raja-raja dan pemimpin-pemimpin mereka bahwasanya negara mereka sedang dijajah serta para wanita dan anak-anak ditawan. Maka tidaklah tertinggal dari penduduk Eropa kecuali ikut dalam peperangan ini dengan menyumbangkan bala pasukan terkuatnya, dan paling banyak jumlahnya. Pasukan mereka yang begitu banyak, cepatnya gerakan dan kerasnya pijakan mereka sama sekali belum pernah ditemukan tandingannya, sehingga debu-debu yang beterbangan di bawah telapak kaki mereka telah menutupi Rhone dari sinar matahari. Dan di saat dua pasukan telah saling mendekat, banyak orang yang berkhayal bahwasannya telah saling berhadapan dua gunung, kemudian masing-masing di antara dua kubu tersebut menggulung yang lain dan pecahlah sebuah peperangan yang sangat dahsyat yang belum pernah terukir oleh sejarah. Adapun As Samh atau Dzamma sebagaimana kami memanggilnya, selalu muncul di depan pasukan kami di setiap tempat. Ia melompat ke sana kemari di depan mereka. Di saat seperti itulah ia terkena lemparan anak panah, sehingga jatuh terbanting dari kuda tunggangannya. Di saat kaum muslimin melihat kejadian tersebut, maka menjadi pecahlah kekuatan mereka dan lemahlah mereka sehingga barisan-barisan mereka menjadi bercerai berai dan kita mempunyai kesempatan emas dengan pasukan kita yang masih gagah berani untuk menghancurkan mereka semua. Kalaulah tidak karena sebuah pertolongan dari langit yang mereka dapatkan dengan majunya seorang panglima yang cerdas yang namanya begitu akrab di telinga orang Eropa, yaitu Abdurrahman al-Ghafiqi. Kemudian ia memerintahkan pasukannya untuk bergerak mundur untuk mengurangi kerugian mereka, dan kembali ke negeri Spanyol. Tetapi ia masih berniat kuat untuk mengulangi penyerangan tersebut dengan metode yang baru “

Wa ba’du…
Apakah engkau melihat bagaimana bisa menyingkap cahaya rembulan di malam yang begitu gelap, sehingga orang-orang yang tersesat banyak yang mengambil cahaya darinya dan bisa menunjuki mereka sebuah jalan?

Demikianlah peperangan Tolouse telah melahirkan seorang pahlawan Islam yang cerdas, dialah Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dan apakah secara kasat mata bisa melihat bagaimana orang-orang yang kehausan sehingga kematian begitu dekat dengannya, sementara ia berada di tengah-tengah padang sahara, kemudian tampaklah air di depan mereka lalu mereka menjulurkan tangan untuk menciduk air tersebut dengan satu cidukan sehingga kembalilah sinar kehidupan mereka?

Demikianlah pasukan muslimin menggantungkan harapan mereka kepada kepemimpinan panglima yang agung, kepadanyalah mereka mengharapkan kesuksesan, dan memba’iatnya untuk selalu mendengar dan patuh.

Tidaklah mengherankan jika peperangan Tolouse adalah perang pertama yang menorehkan luka yang begitu dalam bagi kaum muslimin sejak mereka menjejakkan kaki-kaki mereka di Eropa. Dan Abdurrahman al-Ghafiqi adalah obat yang manjur dari luka tersebut, ia memiliki tangan yang penuh kasih sayang yang dipenuhi dengan perasaan suka menolong dan hati yang halus yang mencucurkan rasa iba kepada setiap orang.

Berita kekalahan dan kerugian yang dialami kamu muslimin di Perancis telah menggores hati khalifah di Damaskus. Kematian seorang pahlawan yang pemberani, yaitu As Samh bin Malik al-Khaulani telah mengobarkan api di dadanya untuk segera membalasnya. Kemudian ia mengeluarkan perintah agar pasukan tetap dalam ba’iat mereka kepada Abdurrahman al-Ghafiqi dan menyerahkan kepadanya wilayah Andalus dan negara-negara yang bertetangga dengannya dari daerah-daerah Perancis yang sudah ditaklukkan.

Kemudian Abdurrahman al-Ghafiqi membuka tangannya untuk melaksanakan pekerjaan ini sekehendak hatinya. Dan tidaklah mengherankan, karena al-Ghafiqi adalah seorang yang jantan lagi pemberani, bertaqwa, seorang yang bijaksana dan selalu terdepan.

Semenjak Abdurrahman al-Ghafiqi diberikan tugas untuk memimpin daerah Andalus, beliau segera membangun kepercayaan diri pasukannya, dan membekali perasaan mereka dengan kemulyaan, kekuatan diri dan kemenangan demi mewujudkan cita-cita yang agung yang dirintis oleh para panglima Andalus yang dimulai dari Musa bin Nushair dan diakhiri oleh as-Samh bin Malik al khaulani.

Telah bulat keinginan mereka untuk berangkat dari Perancis ke Italia dan Jerman, kemudian dari kedua tempat tersebut mereka langsung menuju Kostantinopel. Mereka ingin menjadikan lautan pasifik sebagai danaunya orang islam dan menyebutnya sebagai Laut Syam sebagai ganti dari Laut Romawi.

Tetapi Abdurrahman al-Ghafiqi berkeyakinan behwasannya untuk menyiapkan pembekalan dalam peperangan yang paling utama adalah dimulai dengan memperbaiki hati para pasukan dan menyucikannya. Dan ia juga berkeyakinan tidak ada satu umat pun dapat mewujudkan harapannya untuk mencapai kemenangan apabila benteng pertahanannya retak, dan terancam roboh dari dalam.

Oleh karenanya, ia mengelilingi Negara Andalus dari satu negeri ke negeri yang lain, dan menyuruh para juru panggilnya untuk menyerukan kepada manusia, “barangsiapa yang terzalimi baik oleh salah seorang pemimpin, atau hakim atau kepada orang lain maka bawalah urusan itu ke hadapan Amir. Tidaklah ada perbedaan baginya antara orang-orang islam dan orang-orang yang masih terikat perjanjian dengan mereka “.

Kemudian mulailah ia melihat kepada orang-orang yang mengadukan perkaranya satu persatu. Dan memberikan keadilan bagi orang yang lemah dan orang yang dizhalimi serta mengambil hak atas urusan gereja yang dirampas dan mengembalikan apa yang menjadi hak-hak mereka. Ia menghancurkan bangunan yang dibangun dengan memakai uang korupsi, kemudian melihat kepada urusan para bawahannya. Ia memecat orang yang jelas-jelas tampak darinya pengkhianatan dan penyimpangan kemudian memberikan kedudukannya kepada orang yang kuat kepercayaan, kefahaman dan keluhuran budi pekertinya.

Dan setiap ia masuk ke sebuah Negeri, ia mengajak orang-orang untuk sholat jum’at, kemudian beliau berdiri sebagai khatib dan memberikan semangat untuk melaksanakan jihad, menganjurkan untuk mencari syahid dan menjanjikan kepada mereka akan ridha Allah SWT dan kemenangan dengan pahalanya.

Abdurrahman al-Ghafiqi selalu mengiringi perkataan dengan perbuatannya, dan mengokohkan angan-angan dengan tindak nyatanya. Pertama kali yang ia kerjakan saat menempati wilayahnya adalah mempersiapkan perlengkapan, menyempurnakan senjata perang, memperbaiki tempat berlindung dan membangun benteng pertahanan serta memperkokoh jembatan. Jembatan terbesar yang ia bangun adalah jembatan Kordova, ibukota Andalus. Jembatan itu dibangun di atas sungai Kordova yang lebar, agar orang-orang dan pasukan perangnya bisa menyeberang di atasnya. Jembatan ini juga akan menjaga manusia dari derasnya banjir, jembatan ini terhitung sebagai salah satu keajaiban dunia. Panjangnya mencapai delapan ratus depa, dengan ketinggian mencapai enam puluh depa dan lebar dua puluh depa, lengkukannya berjumlah delapan belas lengkukan dan ia mempunyai sembilas benteng benteng pelindung. Jembatan ini masih ada sampai sekarang, yang menjadi kebanggaan Spanyol.

Abdurrahman al-Ghafiqi telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyatukan para pemimpin pasukan dan pemuka-pemuka masyarakat di setiap kota yang ia singgahi. Ia selalu mendengarkan apa-apa yang mereka sampaikan dan menampung usulan-usulan mereka serta mengambil pelajaran atas nasehat mereka.

Ia telah beri’tikad untuk berusaha sedikit bicara tapi banyak kerjanya, hal ini juga ia lakukan saat bertemu dengan orang-orang terpandang dari kaum muslimin, seperti juga saat ia berkumpul dengan pembesar-pembesar ahlu dzimmah yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin. Ia banyak menanyakan urusan-urusan Negara yang kelihatan rumit dan menyibukkan diri dengan keadaan raja-raja dan panglima-panglima mereka.

Pada suatu kali, ia mengundang salah seorang pembesar ahlu dzimmah Perancis untuk datang menghadapnya dan berlangsunglah antara keduanya percakapan tentang berbagai macam tema, ia bertanya kepadanya, “apa yang menyebabkan pemimpin tertinggimu Syarla tidak mau untuk berperang melawan kami, dan sama sekali tidak menolong raja-raja lain untuk memerangi kami?!” maka pembesar itupun berkata “wahai Amir, kalian telah memenuhi janji-janji kalian kepada kami, maka kami juga merasa punya hak untuk membenarkan perkataan yang kalian lontarkan kepada kami. Sesungguhnya pemimpin besar kalian Musa bin Nushair telah memerintah dalam genggamannya negeri Spanyol secara kokoh kemudian ia meninggikan cita-citanya untuk terus memperluaskannya hingga melewati gunung Pyrenees yang memisahkan antara Andalus dan negeri kita yang indah ini. Kemudian mengungsilah para raja-raja dan kaum cendekiwananya ke negeri kami yang agung ini dan mereka berkata “ kehinaan apa yang menimpa kami dan para anak cucu kami, wahai sang raja?! kami telah mendengar tentang orang-orang Islam, kami khawatir dengan sepak terjang dan kedatang mereka dari sebelah timur matahari, sedangkan mereka sekarang telah datang dari sebelah barat, kemudian menduduki Spanyol seluruhnya dan menguasai segala peralatan perang dan senjatanya,mereka menduduki puncak-puncak gunung yang tinggi memisahkan antara kami dan mereka, padahal jumlah mereka sedikit, dan persenjataan mereka minim, kebanyakan mereka tidak memiliki baju besi yang menjaga mereka dari sabetan-sabetan pedang atau kendaraan kuda yang mereka tunggangi di medan-medan perang” maka sang raja berkata “kami telah memikirkan apa-apa yang sering terlintas dalam pikiran kalian dan kamipun sering memikirkannya dengan keras. Maka kami mempunyai taktik agar tidak terlalu menampakkan sepak terjang kami kepada mereka, karena mereka sekarang ibarat arus sungai yang begitu deras dan menghanyutkan apa saja yang menghalangi perjalanannya serta membawa besertanya dan melemparkannya kemanapun ia suka. Dan kami menemukan juga bahwasannya mereka mempunyai aqidah dan niat yang kokoh yang keduanya dapat mencukupkan mereka dari banyaknya jumlah atau canggihnya peralatan. Mereka juga mempunyai keyakinan dan kejujuran yang bisa menggantikan fungsinya baju besi dan kuda tunggangan. Akan tetapi kami biarkan mereka sehingga mereka memenuhi tangan-tangan mereka dengan harta rampasan, mengambil istana-istana, bangunan-bangunan mewah dan memperbanyak budak perempuan serta saling berlomba-lomba untuk merebut kursi kekuasaan. Di saat itulah kami menemukan jalan yang begitu mudah, yang tidak mengeluarkan energi yang banyak “

Maka Abdurrahman al-Ghafiqi menundukkan matanya ke tanah dengan perasaan sedih, dan ia menarik nafas panjang kemudian bubarlah majlis dan iapun berkata, “Mari kita pergi sholat karena waktunya telah begitu dekat.”

Abdurrahman al-Ghafiqi mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi peperangan yang begitu besar selama dua tahun, ia menyiap-siagakan para batalyon pasukan dan semakin mengasah cita-cita agar semakin tajam dan menyalakan keberanian kepada pasukannya, ia juga meminta bantuan kepada Amir Afrika, maka Amir Afrika mengirim pasukan pilihan yang terbakar api kerinduan untuk ikut berjihad dan semangat mencari mati syahid.

Kemudian ia mengirimkan perintah kepada Utsman bin Abi Nus’ah -seorang di sebuah wilayah perbatasan- agar bisa memancing musuh dan mengalihkan perhatian mereka sampai bila waktunya ia (Abdurrahman) datang dengan kekuatan penuh. Tetapi hati Utsman dipenuhi sifat dengki dengan para pemimpin yang mempunyai keinginan yang meluap-luap dan cita-cita yang tinggi sehingga menjadi bahan pergunjingan manusia dan mengecilkan kedudukan para pemimpin dan pembantu-pembantu yang lain. Lebih dari itu, dalam serangan ke Perancis pada perang sebelumnya ia berhasil mendapatkan anak gadis Duke Oktavia yang bernama Minin. Ia adalah gadis yang lembut dan memiliki kecantikan yang mempesona. Gadis ini menggabungkan antara kecantikan dan kemulian sebagai anak Raja.erempuan Duck Oktania yang bernama Minin. Ia adalah seorang pemudi yang lembut dan memiliki kecantikan yang mempesona. Kecantikannya inilah yang menjadikan fitnah para pemimpin-pemimpin besar. Hati Utsman dipenuhi dengan cinta dan ia berniat untuk mempersuntingnya sehingga Minin menempati kedudukan yang mulia di hatinya yang tidak pernah dirasakan isteri manapun. Ia telah mengadakan perjanjian dengan ayahnya untuk memberikan keamanan dari kemarahan kaum muslimin terhadap daerah kekuasaannya yang berbatasan dengan Andalusia. Tetapi di saat datang berita dari Abdurrahman al-Ghafiqi untuk menyerbu negeri mertuanya tersebut, ia bingung, tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.

Tetapi tidak lama kemudian, ia langsung menulis surat kepada Abdurrahman al-Ghafiqi untuk menarik ulang perintahnya tersebut. Melalui surat tersebut ia mengatakan bahwasannya ia tidak dapat melanggar janji dengan Duke Oktania sampai datang ajalnya. Maka Abdurrahman al-Ghafiqi menjadi marah kemudian mengutus kepadanya sebuah surat dan berkata, “Sesungguhnya perjanjian dengan orang tanpa sepengetahuan pimpinanmu adalah batal, dan tidak akan pernah menghalangi pasukanmu untuk melakukan sesuatu, kamu harus segera melaksanakan perintah yang aku perintahkan kepadamu dengan tanpa ada keraguan sedikitpun!”

Tatkala Ibnu Abi Nus’ah merasa putus asa dengan perintah amir untuk mencabut keputusannya itu, maka ia mengutus seorang utusan kepada mertuanya untuk menyampaikan berita tersebut, dan menyuruhnya mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan musuh.

Akan tetapi mata-mata Abdurrahman al-Ghafiqi selalu mengawasi langkah dan gerak gerik Ibn Abi Nus’ah sehingga sampailah berita mengenai hubungannya dengan musuh kepada al-Ghofiqi. Maka segeralah al Ghafiqi menyiap-siagakan satu batalyon pasukan yang dikomandoi oleh para pemimpin yang mempunyai kemampuan dan pengalaman perang yang hebat dan menyuruh mereka untuk membawa serta Utsman bin Abi Nus’ah hidup atau mati.

Batalyon perang tersebut menyerang tempat Ibn Abi Nus’ah dengan tiba-tiba, dan hampir saja ia bisa dikalahkan andai saja dia tidak menghentikan perlawanan.. Kemudia ia berlari ke gunung dengan ditemani oleh beberapa orang pasukannya dan juga istrinya Minin yang sangat cantik, ia tidak mau pisah dengannya selamanya, dan ia tidak bisa melihat dunia tanpanya.

Para batalyon pasukan tetap berada di belakang mereka dan mengepungnya, dia membela diri dan isterinya seperti pembelaan seekor singa terhadap keselamatan anaknya, dia terus bertahan di samping isterinya sehingga akhirnya dia jatuh terbunuh. Di badannya tertoreh banyak luka sabetan pedang, dan tusukan tombak yang tak terhitung jumlahnya. Para pasukan memenggal kepalanya dan membawanya beserta isterinya yang cantik ke hadapan Abdurrahman al-Ghafiqi. Di saat wanita tersebut sampai di hadapannya dan ia melihat kecantikannya yang mempesona, iapun menundukkan pandangannya dan memalingkan wajahnya kemudian mengirimkannya kepada khalifah sebagai hadiah.

Maka selesailah satu babak kehidupan ratu Perancis yang cantik dalam penjagaan khalifah Umaiyyah di Damaskus.

CATATAN:

* Kawasan yang terletak di sebelah tenggara eropa yang sekarang terpecah menjadi beberapa negara, yaitu: Rumania, German, Yugoslavia, Bulgaria, Turki dan Roma

** Beliau SAW bersabda, “Sungguh kalian benar-benar akan dapat membuka Qostantiniyah, sebaik-baik pasukan adalah pasukan mereka dan sebaik-baik panglina adalah panglima mereka.”
*** Narbonne: sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Prancis

Senin, 11 April 2011

Tepuk Istiqomah

Posted by Haryo-no 06.25, under | No comments

TEPUK ISTIQOMAH

( X X X ) Aku ( X X X ) Anak Islam

( X X X ) Slalu bangga ( X X X ) dengan Islam

( X X X ) Jadi mentri ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Jadi mantri ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Pak polisi ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Sampai mati ( X X X ) tetap Islam

( X X X ) Islam Islam yes.

"Tepuk Cinta"

Posted by Haryo-no 05.59, under | No comments

Pertama aku cinta pada Allah (plok..plok..plok..)
Kedua aku cinta Rasulullah (plok..plok..plok..)
Ketiga aku cinta pada ayah dan bunda (plok..plok..plok..)
Saudara seiman dan seagama(plok..plok..plok..)

Minggu, 10 April 2011

“Terseyumlah, Bukan Tertawa” oleh Nurulhuda Al Arbiai

Posted by Haryo-no 07.28, under ,,, | No comments

Menjelang perpisahannya dengan Nabi Musa AS, Nabi Khidir AS memberikan nasihat kepadanya "hai Musa, janganlah kau terlalu banyak bicara, dan janganlah banyak tertawa, juga jangan mentertawakan orang yang berbuat salah, dan tangisilah dosa-dosa yang telah kamu perbuat, hai putra Ali Imron" (tanbighul ghafilin 192-193). Tertawa, tentu saja bukanlah sesuatu yang dilarang. Siapa saja boleh tertawa selagi ingin. Dengan tertawa menunjukkan bahwa seseorang sedang dalam keadaan senang. Bahkan tertawa bisa menjadi ilham bagi seorang penulis untuk untuk membuat buku. Akan tetapi, tertawa dalam pengertian mengeluarkan suara meledak-ledak oleh sebab rasa suka, geli, apalagi mengandung unsur menghina seseorang, ini akan lain ceritanya. Tertawa dengan cara seperti ini yang disuruh dihindari oleh Nabi Khidir.

Subhanallah, tidak didapati dalam ajaran diluar islam yang mengatur tata hidup sedemikian rupa, hingga masalah kecil seperti tertawa. Allah SWT befirman : "Maka hendaklah mereka sedikit tertawa dan banyak menangis sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. At-Taubah:82). Dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Dzar beliau bersabda: "Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu sedikt tertawa..".
Rasulullah SAW tidak pernah tertawa, kecuali hanya tersenyum, tidak menoleh kecuali dengan menghadapkan semua tubuh anggotanya. Berdasarkan hadits di atas, sebagian ulama' berpendapat bahwa senyum itu hukumnya sunnah, sedang tertawa terbahak-bahak dihukumi makruh. Maka bagi mereka yang tetap ingin sehat akalnya, sepatutnya menjauhi tertawa dengan cara demikian yakni terbahak-bahak, kata al-faqih Abu Laits Samarqandi. dengan kata lain orang yang tidak bisa mengendalikan diri dan gemar tertawa-tawa, akan membuat fungsi akalnya terganggu, lengah dan lupa diri, yang berarti membuka pintu bagi syetan untuk masuknya godaan.

Dalam surat An-Najm:59-61 memperingatkan: "Apakah dengan ajaran ini kalian takjub ? Kamu tertawa dan tidak menangis. Sedangkan kalian terlengah." Ibnu Abbas berkata: barangsiapa yang tertawa disaat berbuat maksiat, maka akan bercucuran tangis di neraka. Tertawa yang berlebihan, termasuk diantara tiga perkara yang menyebabkan hati seorang menjadi bebal dan membatu. Sedang dua penyebab yang lainnya yaitu: belum lapar sudah makan lagi dan gemar omong kosong.

Terkadang kita mendapati seseorang yang kesibukannya membuat orang tertawa-tawa, sehinggan bukan semata-mata menjadi hiburan hati, tapi sudah mengarah kepada membuat orang menajadi lengah dan lupa. Kepada orang yang berbuat seperti ini Rasulullah SAW memberi peringatan "Celakahlah orang yang berdusta supaya ditertawakan orang lain, celakahlah dia, celakahlah dia."(HR. Tirmidzi). Orang yang terbiasa tertawa-tawa mendapati suasana yang sepi menjadi sunyi, bila tidak kunjung diobati. Sedangkan menurut Yahya Mu'adz Razy sebagaimana dikutip Al-Faqih ada empat hal yang dapat menjadi obat bagi mereka yang terkena penyakit tertawa, yaitu:

1. ingat akan dosa-dosa yang telah diperbuat selama ini

2. sibuk dengan bekerja untuk memnuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri

3. ingat bahwa jatah umur yang ada tinggal sedikit, dan akan datang kehidupan baru di akhirat

4. memperhatikan setiap musibah yang menimpa, baik diri sendiri, keluarga, maupun orang lain.



Sementara itu Sayyidina Salman Al-Farisi RA pernah berkata "ada tiga hal yang membuatku tertawa:

1. Aku tertawa melihat orang yang berangan-angan panjang dengan dunia padahal maut tengah mengejarnya

2. Orang yang lengah sedang maut tak pernah lengah darinya

3. Serta orang yang tertawa dengan mulut yang terbuka penuh. sementara ia tidak tahu apakah perbuatannya diridloi atau dimurkai Allah.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita ke arah hidup yang Allah selalu meridloi amalan kita. Amiinn.....pemudaislam.co.tv

Si Belang, Botak dan Si Buta

Posted by Haryo-no 07.24, under , | No comments

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan (artinya): “Ada tiga orang dari Bani Israil menderita penyakit belang, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allah pun utus kepada mereka Malaikat. Malaikat itu datang kepada si belang dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si belang menjawab: Saya mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku. Malaikat itu pun mengusap si belang, maka hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu, bahkan ia diberi paras yang tampan. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si belang menjawab: Unta. Kemudian ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan?

Si botak menjawab: Saya mendambakan rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini. Malaikat itu pun mengusap si botak, maka hilanglah penyakitnya itu, serta diberilah ia rambut yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si botak menjawab: Sapi. Kemudian ia diberi sapi yang bunting. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si buta dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si buta menjawab: Saya mendambakan agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat. Malaikat itu pun mengusap si buta, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si buta menjawab: Kambing. Kemudian ia diberi kambing yang bunting.

Selang beberapa waktu kemudian, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak yang akhirnya si belang tadi memiliki unta yang memenuhi suatu lembah, demikian juga dengan si botak dan si buta, masing-masing memiliki sapi dan kambing yang memenuhi suatu lembah.

Kemudian Malaikat tadi datang kepada si belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang bagus serta harta kekayaan- seekor unta untuk bekal dalam perjalanan saya. Si belang berkata: Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak.

Malaikat itu berkata: Kalau tidak salah saya sudah mengenalimu. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu? Bukankah kamu dahulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu? Si belang berkata: Harta kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku. Malaikat itu berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak waktu itu. Dan berkata kepadanya seperti apa yang dikatakan kepada si belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang tadi. Kemudian Malaikat tadi berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah ? mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta waktu itu dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah ? kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah mengembalikan penglihatanmu- seekor kambing untuk bekal dalam perjalanan saya. Si buta berkata: Saya dahulu adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Mulia. Malaikat itu berkata: Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu itu diuji dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (si belang dan si botak).” (HR. Al Bukhari dan Muslim, hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam Riyadhush Shalihin hadits no. 65)

Di dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia tersebut banyak terkandung faedah dan pelajaran beharga bagi kaum muslimin. Tidaklah Rasulullah menceritakan kisah kejadian umat terdahulu melainkan untuk menjadi pelajaran bagi umat yang datang setelahnya.

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman". (Yusuf: 111)

Sabtu, 09 April 2011

Kisah Abu Nawas

Posted by Haryo-no 09.28, under , | No comments

Kisah Abu Nawas: Rahasia Kotak-kotak Ajaib
Rahasia Kotak-kotak Ajaib

Malam berikutnya,sang Raja memerintahkan kepada Abu Nawas agar meneruskan kisah-kisah aneh dan ajaib, yang menjadi kegemaran sang Raja. Abu Nawas menjawab, “Dengan senang hati, wahai raja yang baik dan bahagia...”

Hamba mendengar, wahai sang Raja, pelayan itu menceritakan kepada raja Cina bahawa pemuda itu berkata:
Khalifah berkata kepada para pelayan, “Buka kotak ini, agar aku dapat melihat apa yang ada di dalamnya.”

Tetapi gadis itu berkata, “Wahai tuanku, bukalah kotak ini di hadapan Puan Zubaidah, sebab apa yang ada di dalamnya merupakan rahsianya, dan dia lebih mengistimewakan kotak yang satu ini berbanding semua kotak lainnya.”

Ketika khalifah mendengar penjelasannya, dia memerintahkan para pelayan untuk mengangkat kotak tersebut ke dalam, dan dua orang pelayan segera mengangkat kotak tempatku bersembunyi, sementara aku hampir tidak percaya bahawa aku masih hidup. Setelah kotak berada di dalam sebuah ruangan di mana pengawal yang kukenali sebelum ini berada di ruangan itu, dia segera memerintahkan aku agar segera keluar dari kotak.

Sambil membuka penutup kotak, dia berkata, “Keluarlah cepat dan naikilah tangga ini.” Aku berdiri dan keluar dari kotak, dan baru saja dia menutup kotak itu kembali dan aku menaiki tangga, para pelayan itu masuk membawa kotak-kotak lainnya, diikuti oleh khalifah. Lalu mereka membuka semuanya di hadapannya, sementara dia duduk di atas kotak tempatku bersembunyi sebelumnya. Lalu dia bangkit dan masuk ke dalam ruangan.

Sepanjang tempoh itu aku duduk dengan mulut kering kerana ketakutan. Tak lama kemudian gadis idamanku naik ke atas dan berkata padaku, “Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Bergembiralah dan tunggu hingga Puan Zubaidah datang melihatmu, dan engkau mungkin akan memperolehi nasib baik dan mendapatkan diriku.”

Aku turun ke bawah, dan begitu aku duduk di sebuah ruangan kecil, masuklah sepuluh orang pelayan perempuan, semua bagaikan rembulan, dan berdiri dalam dua barisan, dan mereka diikuti oleh dua puluh orang perawan berdada tinggi, berjalan bersama Puan Zubaidah, yang hampir tidak dapat berjalan kerana berat membawa pakaian dan perhiasannya.

Ketika dia mendekatiku, para pelayan itu berpencar dan membawakannya sebuah kerusi, yang kemudian didudukinya. Lalu dia berseru kepada gadis-gadis itu, yang akhirnya berseru memanggilku, dan aku maju dan mencium tanah di hadapannya. Dia menyuruhku duduk, dan aku duduk di hadapannya, sementara dia bercakap-cakap denganku dan aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya mengenai keadaanku.

Dia merasa senang denganku dan akhirnya berkata, “Demi Tuhan, tidak sia-sia aku membesarkan gadis ini. Dia seperti anakku sendiri, suatu amanah yang diberikan Tuhan kepadamu.” Lalu dia menyuruhku tinggal selama sepuluh hari di istana....

Tetapi fajar menyingsing. Abu Nawas terdiam, lalu sang Raja berkata, “Ceritamu benar-benar aneh dan menarik!” Abu Nawas menjawab, “Esok malam ceritanya lagi menarik dan lagi aneh.”

Dongeng Nashrudin Hoja

Posted by Haryo-no 09.08, under ,, | No comments

Kisah Nasrudin Hoja: Itik Berkaki Satu

Itik Berkaki Satu

Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?"

"Memang di negeri ini itik-itik hanya memiliki satu kaki. Kalau Anda tidak percaya, cobalah lihat di kolam."
Mereka berdua berjalan ke kolam. Di sana, banyak itik berendam sambil mengangkat sebuah kakinya, sehingga nampak hanya berkaki satu.

"Lihatlah," kata Nasrudin puas, "Di sini itik hanya berkaki satu."

Tentu Timur Lenk tidak mau ditipu. Maka ia pun berteriak keras. Semua itik kaget, menurunkan kaki yang dilipat, dan beterbangan.

Tapi Nasrudin tidak kehilangan akal. "Subhanallah," katanya, "Bahkan itik pun takut pada keinginan Anda. Barangkali kalau Anda meneriaki saya, saya akan ketakutan dan secara reflek menggandakan kaki jadi empat dan kemudian terbang juga."

Jangan Terlalu Dalam

Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.

Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.

Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"

Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"

"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nasrudin.



Jatuh Ke Kolam

Nasrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nasrudin orang itu selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih berulang-ulang.

Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nasrudin langsung melompat ke air.

"Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"



Jatuhnya Jubah

Nasrudin pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nasrudin sudah menanti dengan marah. "Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !" katanya sambil menjewer Nasrudin. Karena kuatnya, Nasrudin terpelanting dan jatuh menabrak peti.

Mendengar suara gaduh, teman-teman Nasrudin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu,

"Ada apa Nasrudin, malam-malam begini ribut sekali?"

"Jubahku jatuh dan menabrak peti," jawab Nasrudin.

"Jubah jatuh saja ribut sekali ?"

"Tentu saja," sesal Nasrudin, "Karena aku masih berada di dalamnya."

Kamis, 07 April 2011

Hati hati dengan rokok anda

Posted by Haryo-no 07.10, under | No comments


Kita semua mungkin telah mengetahui dampak negatif dari rokok, tapi kali ini ada fakta baru bahwa ternyata filter rokok mengandung unsur babi. Ini hal yang mengagetkan tentunya, bayangkan jika ternyata perokok selama ini menghisap filter rokok yang berbahan unsur babi,,”untung tidak menghisap babi secara langsung..”

Industri rokok Indonesia masih mengimpor filter dari luar negeri. Dengan demikian, kemungkinan besar rokok yang dihisap oleh penduduk Indonesia ada unsur darah babi seperti temuan ilmuwan di Belanda.
“Ini temuan baru di Belanda dan Australia. Sangat mungkin masuk di Indonesia, karena filter kita impor,” kata Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Muhammad, kepada detikcom, Jumat (2/4/2010).
Data yang diperoleh Kartono dari sebuah situs perdagangan menyebutkan, jumlah impor filter rokok di Indonesia nilainya mencapai miliaran. Namun, tidak disebutkan negara mana saja yang dijadikan tujuan impor.
“Nggak disebut negara mana saja, tapi kan kemungkinan negara maju seperti Australia dan Amerika,” jelasnya.
Temukan penjelasan dan alasannya
http://konsultasikesehatan.net
http://www.lintasberita.com
http://sabili.co.id
http://www.kabarmuslim.com